{"id":230581,"date":"2026-08-27T02:00:00","date_gmt":"2026-08-27T00:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/fundacioncarf.org\/?p=230581"},"modified":"2026-08-26T16:21:22","modified_gmt":"2026-08-26T14:21:22","slug":"actitudes-de-jesus-ante-el-sufrimiento-humano","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/actitudes-de-jesus-ante-el-sufrimiento-humano\/","title":{"rendered":"Sikap Yesus terhadap penderitaan manusia"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Di tingkat sosial, kita dapat melakukan banyak hal dalam bidang ini, dengan memerangi \"budaya membuang\" yang menimpa begitu banyak anak-anak dan remaja, orang sakit, penyandang disabilitas, lansia, serta mereka yang terpinggirkan dari masyarakat. Dengan demikian, kita dapat berkontribusi, dalam kehidupan sehari-hari dan dalam situasi konkret masing-masing, untuk menunjukkan dan membela \"martabat yang tak terbatas\" setiap manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Barangsiapa yang memandang Kristus dan hidup bersama-Nya, berjalan bersama-Nya, serta meneladani sikap-sikap-Nya. Dalam suatu&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.vatican.va\/content\/francesco\/es\/speeches\/2024\/april\/documents\/20240411-plenaria-pcb.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Pidato di hadapan sidang pleno Komisi Biblika Kepausan<\/em><\/a>&nbsp;(11 April 2024), penerus Petrus, Paus Fransiskus, mendesak kita untuk meneladani sikap-sikap Yesus, khususnya&nbsp;<strong>dalam menghadapi penyakit dan penderitaan manusia.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u00abKita semua goyah di bawah beban pengalaman-pengalaman ini dan kita harus saling membantu untuk melewatinya dengan menjalaninya \u2018dalam hubungan\u2019,&nbsp;<strong>tanpa menutup diri&nbsp;<\/strong>dan tanpa membuat pemberontakan yang sah berubah menjadi&nbsp;<strong>isolasi, pengabaian, atau keputusasaan<\/strong>\".<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berdasarkan pengalaman para bijak dan berbagai budaya, kita mengetahui bahwa penderitaan dan penyakit, terutama jika kita memandangnya dari sudut pandang iman, dapat menjadi faktor penentu dalam sebuah&nbsp;<strong><em>proses pematangan<\/em><\/strong>; sebab penderitaan, di antara hal-hal lain, memungkinkan kita membedakan hal yang esensial dari yang tidak esensial.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Paus Fransiskus menegaskan bahwa yang terpenting adalah\u00a0<strong>teladan Yesus<\/strong>\u00a0yang menunjukkan jalan, sikap yang harus kita ambil dalam menghadapi penyakit dan penderitaan diri sendiri maupun orang lain, serta menerjemahkannya menjadi langkah-langkah yang bermanfaat: \u00abIa mendorong kita untuk merawat mereka yang sedang sakit, dengan tekad untuk mengatasi penyakit tersebut; pada saat yang sama, Ia dengan lembut mengajak kita untuk menyatukan penderitaan kita dengan persembahan-Nya yang menyelamatkan, seperti benih yang menghasilkan buah.\u00bb.\u00a0<strong>Merawat dan berusaha mengatasi, mempersatukan, serta menerima.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Memang, sejak awal masa kepausannya pada tanggal 19 Maret 2013, beliau terus mengajarkan\u2014termasuk ketika mengutip teladan Santo Yusuf\u2014tugas kekristenan dan kemanusiaan untuk melindungi dan melayani, serta menjalin kedekatan dan kepedulian terhadap sesama, terutama bagi mereka yang datang menghampiri kita atau yang dapat kita jangkau, guna meringankan penderitaan mereka (lih. juga pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia, 1 Januari 2021, tentang \u00abbudaya kepedulian sebagai jalan menuju perdamaian\u00bb).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Paus Fransiskus menekankan bahwa pandangan iman dapat membawa kita untuk menghadapi penderitaan dengan dua sikap yang menentukan: belas kasih dan inklusivitas.<\/p>\n\n\n\n<h2 id=\"compasion-con-hechos\" class=\"wp-block-heading\">Belas kasih yang diwujudkan dalam tindakan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong><a href=\"https:\/\/fundacioncarf.org\/domingo-de-la-divina-misericordia\/\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/fundacioncarf.org\/domingo-de-la-divina-misericordia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Kasih sayang<\/a> ini bukanlah perasaan yang dangkal dan sesaat<\/strong>, tanpa komitmen maupun konsekuensi, atau sekadar kata-kata belaka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Benediktus XVI pernah menyatakan bahwa \u00abkeagungan umat manusia pada dasarnya ditentukan oleh hubungannya dengan penderitaan dan dengan mereka yang menderita. Hal ini berlaku baik bagi individu maupun bagi masyarakat. Masyarakat yang tidak mampu menerima mereka yang menderita dan tidak mampu berkontribusi melalui belas kasih agar penderitaan itu dibagi dan diatasi juga secara batiniah, adalah masyarakat yang kejam dan tidak manusiawi\u00bb (enc.&nbsp;<em>Spe salvi,<\/em>&nbsp;38).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal serupa juga diungkapkan oleh Paus Fransiskus dalam pidato yang sama di hadapan Komisi Biblika Kepausan, dengan menekankan belas kasih Yesus itu sendiri:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u00abKasih sayang menunjukkan bahwa&nbsp;<strong>sikap yang selalu ditunjukkan dan menjadi ciri khas Tuhan terhadap orang-orang yang rapuh dan membutuhkan<\/strong>&nbsp;yang Ia temui. Melihat wajah-wajah begitu banyak orang, domba-domba tanpa gembala yang berjuang mencari jalan hidup mereka (lih. Mrk 6:34), Yesus tergerak hatinya. Ia merasa iba terhadap orang banyak yang lapar dan kelelahan (lih. Mrk 8:2) dan tanpa henti menerima orang-orang sakit (lih. Mrk 1:32), yang permohonannya didengarkan-Nya: marilah kita renungkan orang-orang buta yang memohon kepada-Nya (lih. Mat 20:34) dan banyak orang sakit yang meminta untuk disembuhkan (lih. Luk 17:11-19); Ia merasa \u2018sangat berbelas kasih\u2019 \u2014demikian kata Injil\u2014 terhadap janda yang mengantar putra tunggalnya ke kuburan (lih. Luk 7:13). <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kasih sayang yang besar.&nbsp;<strong>Belas kasih ini terwujud dalam bentuk kedekatan dan membuat Yesus mengidentifikasikan diri dengan orang yang menderita<\/strong>: \u2018Aku sakit dan mereka datang menjengukku\u2019 (Mat 25:36)\u00bb.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mari kita perhatikan baik-baik: Yesus tergerak hatinya, merasa iba, dan mendekat hingga menyatu dengan orang yang menderita. Apa yang diungkapkan oleh sikap Yesus ini kepada kita? Dia\u00a0<strong><em>mode<\/em><\/strong>\u00a0mendekat <a href=\"https:\/\/fundacioncarf.org\/la-historia-de-jesus-de-nazaret\/\" data-type=\"post\" data-id=\"183067\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Yesus<\/a> terhadap penderitaan: bukan terutama dengan \u00abpenjelasan\u00bb\u2014yang biasanya kita cenderung lakukan\u2014, atau dengan dorongan dan penghiburan yang sia-sia, atau dengan kata-kata manis atau resep-resep perasaan, seperti yang kadang-kadang terlihat dalam kisah-kisah Kitab Suci, seperti halnya teman-teman Ayub, yang mencoba menganalisis penderitaan dengan mengaitkannya dengan hukuman ilahi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u00abJawaban Yesus sangat penting; jawaban itu terbuat dari \u2018belas kasihan yang menanggung\u2019 dan, dengan menanggungnya, menyelamatkan manusia serta mengubah penderitaan mereka. Kristus telah mengubah penderitaan kita dengan menjadikannya milik-Nya sampai akhir: dengan mengalaminya, menanggungnya, dan mempersembahkannya sebagai karunia kasih. Ia tidak memberikan jawaban-jawaban mudah atas \u2018mengapa\u2019 kita, melainkan di kayu salib Ia menjadikan \u2018mengapa\u2019 besar kita sebagai milik-Nya (lih. Mrk 15:34)\u00bb.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan demikian, kata Fransiskus, dengan merenungkan Kitab Suci kita dapat membersihkan diri dari sikap-sikap yang keliru, dan belajar untuk mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh Yesus: \u00ab<strong>Menyentuh penderitaan manusia&nbsp;<\/strong>dengan tangan sendiri, dengan kerendahan hati, kelembutan, dan ketenangan, untuk menyampaikan, atas nama Allah yang menjelma, kedekatan dukungan yang menyelamatkan dan nyata.&nbsp;<strong>Meraba dengan tangan, bukan secara teoritis<\/strong>\u00bb. Paus berbicara dengan jelas dan lugas.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full is-resized\"><img decoding=\"async\" width=\"864\" height=\"998\" src=\"https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/jesus-curando-a-un-ciego-Carl-Bloch.webp\" alt=\"Jes\u00fas curando a un ciego. Fuente: Wikipedia\" class=\"wp-image-230596\" style=\"aspect-ratio:0.8657423063916131;width:793px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/jesus-curando-a-un-ciego-Carl-Bloch.webp 864w, https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/jesus-curando-a-un-ciego-Carl-Bloch-260x300.webp 260w, https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/jesus-curando-a-un-ciego-Carl-Bloch-130x150.webp 130w, https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/jesus-curando-a-un-ciego-Carl-Bloch-768x887.webp 768w, https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/jesus-curando-a-un-ciego-Carl-Bloch-10x12.webp 10w\" sizes=\"(max-width: 864px) 100vw, 864px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<h3 id=\"inclusion-solidaria\" class=\"wp-block-heading\">Inklusi yang didasari rasa solidaritas<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meskipun bukan kata dalam Alkitab, istilah&nbsp;<em>inklusi<\/em>, jelas Francisco, hal ini dengan baik menggambarkan ciri khas gaya Yesus: menjangkau orang berdosa, orang yang tersesat, orang yang terpinggirkan, dan orang yang dipandang buruk, agar mereka menjadi&nbsp;<strong>diterima<\/strong>&nbsp;di rumah Bapa dan&nbsp;<strong>telah disembuhkan<\/strong>&nbsp;sepenuhnya, dengan segenap tubuh, jiwa, dan roh (misalnya, anak yang hilang atau para penderita kusta). Selain itu, Yesus menghendaki&nbsp;<strong>berbagi<\/strong>&nbsp;Ia mewariskan misi dan sikap penghiburan itu kepada para murid-Nya: Ia memerintahkan mereka untuk merawat orang-orang yang sakit dan memberkati mereka atas nama-Nya (lih. Mat 10:8; Luk 10:9; Luk 4:18-19).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u00abOleh karena itu, melalui pengalaman penderitaan dan penyakit,&nbsp;<strong>Kita, sebagai Gereja, dipanggil untuk berjalan bersama semua orang, dalam solidaritas Kristen dan kemanusiaan, serta membuka, atas nama kelemahan bersama, peluang untuk dialog dan harapan<\/strong>\u00bb. Contoh yang jelas adalah perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati, yang menunjukkan \u00abinisiatif-inisiatif apa saja yang dapat digunakan untuk membangun kembali sebuah komunitas melalui para pria dan wanita yang merasakan kelemahan sesama sebagai bagian dari diri mereka sendiri, yang tidak membiarkan terbentuknya masyarakat yang eksklusif, melainkan menjadi sesama manusia dan mengangkat serta memulihkan mereka yang terpuruk, agar kebaikan menjadi milik bersama\u00bb (ensiklik.&nbsp;<em>Fratelli tutti,<\/em>&nbsp;No. 67).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di hadapan para ahli Alkitab, Paus mengemukakan sebuah prinsip utama: \u00abFirman Allah adalah&nbsp;<strong>penawar yang ampuh terhadap segala bentuk sikap tertutup, pemikiran abstrak, dan ideologisasi iman:<\/strong>&nbsp;dibaca sesuai dengan semangat di mana teks tersebut ditulis,<strong>&nbsp;meningkatkan gairah<\/strong>&nbsp;demi Tuhan dan demi manusia,&nbsp;<strong>memicu semangat amal dan menghidupkan kembali semangat apostolik<\/strong>\u00bb. Dan karena itulah Gereja senantiasa perlu minum \u2013dan memberi minum\u2013 dari mata air Firman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"ante-las-personas-con-discapacidad\"><strong>Terhadap penyandang disabilitas<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sikap-sikap Yesus yang sama\u2014belas kasih, kepedulian, dan inklusivitas\u2014yang harus kita jadikan bagian dari diri kita, dapat kita lihat dalam pertemuannya dengan para penyandang disabilitas, sebagaimana diajarkan Paus pada hari yang sama, dalam Pidatonya di Akademi Ilmu Sosial (11 April 2024).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yesus&nbsp;<strong>hubungi mereka<\/strong>&nbsp;(tidak mengabaikan atau menyangkalnya, tidak meminggirkan atau mengesampingkannya); juga&nbsp;<strong>mengubah makna pengalaman hidupnya<\/strong>, dengan \u00abundangan untuk merajut\u201d&nbsp;<strong>hubungan yang istimewa dengan Tuhan<\/strong>&nbsp;yang harus dilakukan&nbsp;<strong>mekar kembali<\/strong>&nbsp;\u00bbkepada orang-orang\", seperti yang kita lihat pada kasus Bartimeus si buta (lih. Mrk 10:46-52).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Budaya membuang dan pemborosan yang ada saat ini, demikian disayangkan oleh Paus Bergoglio, dengan mudah membuat orang-orang ini menganggap keberadaan mereka sendiri sebagai beban bagi diri mereka sendiri dan orang-orang terkasih. Dan dengan demikian, pola pikir ini membuka jalan bagi budaya kematian, aborsi, dan eutanasia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oleh karena itu, penerus Petrus ini mengusulkan, \u00abberjuang melawan budaya membuang berarti&nbsp;<strong>mempromosikan budaya inklusivitas&nbsp;<\/strong>\u2013harus bersatu\u2013, menciptakan dan memperkuat&nbsp;<strong>ikatan rasa memiliki<\/strong>&nbsp;\u00bbkepada masyarakat\u00ab, berupaya, terutama di negara-negara termiskin, \"untuk mewujudkan\"&nbsp;<strong>keadilan sosial<\/strong>&nbsp;dan untuk menghilangkan berbagai hambatan yang menghalangi begitu banyak orang untuk menikmati hak-hak dan kebebasan dasar.\u00bb Hasil dari tindakan-tindakan ini lebih terlihat di negara-negara yang secara ekonomi lebih maju.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pahamilah bahwa budaya inklusi menyeluruh ini diwujudkan secara lebih utuh \u00abketika penyandang disabilitas bukanlah penerima pasif, melainkan&nbsp;<strong>berpartisipasi dalam kehidupan sosial sebagai penggerak perubahan<\/strong>\u00bb. Karena itu, ia berpendapat bahwa \u00ab<strong>prinsip subsidiaritas dan partisipasi&nbsp;<\/strong>adalah dua pilar inklusi yang efektif. Dan dalam konteks ini, kita dapat memahami dengan baik pentingnya&nbsp;<strong>organisasi dan gerakan<\/strong>&nbsp;\u00bbdari para penyandang disabilitas yang mendorong partisipasi sosial\".<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe title=\"DI KONGO, PENDUDUKNYA MENDERITA KEMISKINAN KARENA PERANG \ud83d\udca5\ud83d\udca5.\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/hgjbb3wnSc8?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"3-citas-de-leon-xiv\"><strong>Tiga kutipan dari Paus Leo XIV saat kunjungannya ke Gran Canaria<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam pertemuannya yang membahas realitas penerimaan para migran, yang diselenggarakan di pelabuhan Arguinegu\u00edn (Gran Canaria), <strong>Paus Leones XIV merenungkan penderitaan mereka yang terpaksa meninggalkan rumahnya <\/strong>karena kemiskinan, kekerasan, perang, atau eksploitasi. Kata-kata ini mencerminkan seruannya untuk mengakui martabat setiap orang dan tidak bersikap acuh tak acuh terhadap penderitaan manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">1. \u00abSeperti yang dapat Anda lihat, di tangan saya ini terdapat cincin yang disebut \u00abCincin Nelayan\u00bb. Nama cincin itu sendiri membawa kita ke Danau Galilea, tempat Kristus memanggil Petrus dan berkata kepadanya: \u00abMulai sekarang engkau akan menjadi nelayan manusia\u00bb (Luk 5:10). Gereja telah menafsirkan ayat tersebut sebagai gambaran misi-Nya. Namun di sini dan di tempat-tempat seperti El Hierro, perintah itu memperoleh makna yang harfiah dan menyakitkan. Pulau itu, yang kecil luasnya namun besar dalam kemanusiaannya, telah menyaksikan kedatangan ribuan orang yang dicabut dari tanah air mereka dan diserahkan pada kerapuhan sebuah perahu kecil. Di sini ada orang-orang yang diselamatkan dari laut dan jenazah-jenazah yang dievakuasi dari perairan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oleh karena itu, Penerus Petrus tidak boleh berpaling dari dermaga-dermaga ini. Gereja tidak boleh berpaling dari perairan ini maupun dari tempat mana pun di mana kelaparan, kehausan, kekerasan, ketakutan, atau pengasingan terus melukai martabat manusia. Para murid Yesus tidak boleh menganggap seruan mereka yang berteriak di tengah malam sebagai hal yang asing bagi mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">2. \u00abBlessing yang terkasih, meskipun kamu tidak ada di sini hari ini, suaramu tetap terdengar. Terima kasih telah berbagi kisahmu dengan kami. Namamu berarti berkat, dan hal itu mengingatkan kita bahwa setiap kehidupan manusia adalah berkat dari Allah. Tidak ada yang bisa membelinya, menjualnya, memanfaatkannya, atau membuangnya, karena dalam diri setiap orang terpancar citra dan rupa Sang Pencipta (lih. Kej 1:27). Kamu telah menceritakan kepada kami bahwa kamu meninggalkan negaramu bukan karena kamu menginginkannya, melainkan karena tidak ada pilihan lain. Dalam kata-katamu, kami mendengar kisah tragis begitu banyak orang yang terpaksa pergi karena kemiskinan, perang, ancaman, atau eksploitasi telah menutup semua jalan bagi mereka.<br><br>\u00bbSaya berharap pesan ini sampai kepadamu dan kepada begitu banyak perempuan yang menjadi korban perdagangan manusia dan eksploitasi: meskipun orang lain telah memberi harga pada tubuhmu, Tuhan tidak pernah berhenti memandangmu sebagai seseorang yang tak ternilai harganya.\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">3. \u00abDrama ini harus menjadi ajang introspeksi: bagi negara-negara asal, yang harus menciptakan kondisi perdamaian, keadilan, dan pembangunan; bagi negara-negara transit, yang dipanggil untuk melindungi dan tidak membiarkan mereka yang lemah jatuh ke tangan jaringan kriminal; bagi Eropa, yang tidak boleh mengumandangkan martabat manusia namun membiarkan Laut Mediterania dan Samudra Atlantik menjadi kuburan tanpa nisan; bagi komunitas internasional, yang dituntut untuk melakukan kerja sama yang efektif dan gigih.\u00bb.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Bapak Ramiro Pellitero Iglesias<\/strong>, profesor emeritus Teologi Pastoral di Fakultas Teologi Universitas Navarra.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Diterbitkan di&nbsp;<strong>Gereja dan penginjilan baru<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-rank-math-toc-block\" id=\"rank-math-toc\"><h2>Daftar isi<\/h2><nav><ul><li><a href=\"#compasion-con-hechos\">Belas kasih yang diwujudkan dalam tindakan<\/a><ul><li><a href=\"#inclusion-solidaria\">Inklusi yang didasari rasa solidaritas<\/a><\/li><\/ul><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kebangkitan Kristus memperbarui hidup kita bersama-Nya. Terutama pada Paskah, kita merayakan kemenangan-Nya atas kejahatan dan kegelapan. Dan hal itu memungkinkan kita untuk mengidentifikasikan diri dengan-Nya, jika kita menanggapi undangan-Nya dengan kemurahan hati, dalam sikap-sikap-Nya terhadap penyakit, penderitaan manusia, dan para penyandang disabilitas. <\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":230584,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[435,434,352],"class_list":["post-230581","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-blog","tag-compasion","tag-cuidado","tag-sufrimiento"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/230581","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=230581"}],"version-history":[{"count":18,"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/230581\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":232877,"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/230581\/revisions\/232877"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/230584"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=230581"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=230581"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=230581"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}