{"id":230177,"date":"2026-06-29T02:00:29","date_gmt":"2026-06-29T00:00:29","guid":{"rendered":"https:\/\/fundacioncarf.org\/?p=230177"},"modified":"2026-06-16T16:50:33","modified_gmt":"2026-06-16T14:50:33","slug":"papa-leon-xiv-seminario-escuela-de-los-afectos","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/papa-leon-xiv-seminario-escuela-de-los-afectos\/","title":{"rendered":"Paus Leo XIV menyebut seminari sebagai \u00absekolah kasih sayang\u00bb"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam pertemuannya dengan ribuan seminaris selama perayaan Jubileum yang diselenggarakan di Roma pada tanggal 24 Juni 2025, sang <strong>Paus Leo XIV<\/strong> ia meninggalkan sebuah ungkapan yang telah menggema dengan kuat di seluruh Gereja: \u00abseminar harus menjadi sekolah kasih sayang\u00bb.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itu bukanlah ungkapan yang diucapkan secara spontan atau sekadar pelengkap. Bapa Suci ingin menempatkan inti dari pembinaan imamat pada hal yang sangat konkret: belajar untuk mengasihi seperti Kristus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u00abSebagaimana Kristus mengasihi dengan hati manusia, kalian dipanggil untuk mengasihi dengan Hati Kristus! Mengasihi dengan hati Yesus. Namun, untuk menguasai seni ini, kita harus mengasah kehidupan batin kita, tempat di mana Allah menyuarakan firman-Nya dan dari mana keputusan-keputusan terdalam berasal; namun tempat itu juga merupakan tempat ketegangan dan pergumulan (lih.&nbsp;<em>Mc<\/em>&nbsp;7,14-23), yang harus diubah agar seluruh kemanusiaannya memancarkan semangat Injil. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oleh karena itu, pekerjaan pertama harus dilakukan di dalam diri. Ingatlah baik-baik ajakan Santo Agustinus untuk kembali ke hati, karena di sanalah kita menemukan jejak-jejak Tuhan. Menyelami hati terkadang bisa membuat kita takut, karena di sana juga terdapat luka-luka. Jangan takut untuk merawatnya, biarkan diri Anda dibantu, karena justru dari luka-luka itulah akan lahir kemampuan untuk mendampingi mereka yang menderita. Tanpa kehidupan batin, kehidupan rohani pun tidak mungkin terwujud, karena Tuhan berbicara kepada kita tepat di sana, di dalam hati. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tuhan berbicara kepada kita di dalam hati; kita harus tahu cara mendengarkannya. Bagian dari proses batin ini juga mencakup latihan untuk belajar mengenali gejolak hati: bukan hanya emosi yang cepat dan spontan yang menjadi ciri khas jiwa kaum muda, melainkan terutama perasaan-perasaan mereka, yang membantu mereka menemukan arah hidup mereka. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika kalian belajar mengenal hati kalian, kalian akan menjadi semakin otentik dan tidak perlu lagi memakai topeng. Dan jalan istimewa yang membawa kita menuju kedalaman batin adalah doa: di era di mana kita sangat terhubung satu sama lain, semakin sulit bagi kita untuk merasakan keheningan dan kesendirian. \u00bbTanpa pertemuan dengan-Nya, kita bahkan tidak dapat mengenal diri kita sendiri dengan sejati.\u201d.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"697\" height=\"491\" src=\"https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/haz-que-el-sueno-del-Papa-se-cumpla-Fundacion-CARF-2.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-229421\" style=\"aspect-ratio:1.4195652865735289\" srcset=\"https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/haz-que-el-sueno-del-Papa-se-cumpla-Fundacion-CARF-2.jpg 697w, https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/haz-que-el-sueno-del-Papa-se-cumpla-Fundacion-CARF-2-300x211.jpg 300w, https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/haz-que-el-sueno-del-Papa-se-cumpla-Fundacion-CARF-2-150x106.jpg 150w, https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/haz-que-el-sueno-del-Papa-se-cumpla-Fundacion-CARF-2-18x12.jpg 18w\" sizes=\"auto, (max-width: 697px) 100vw, 697px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<h2 id=\"que-quiere-decir-leon-xiv-con-escuela-de-los-afectos\" class=\"wp-block-heading\"><strong>Apa yang dimaksud Paus dengan \u201csekolah kasih sayang\u201d?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Paus ingin secara khusus menyoroti dimensi kemanusiaan dari <strong>panggilan imam<\/strong>. Selama Perayaan Yubileum para seminaris, ia menyatakan:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u00abSangat penting\u2014bahkan, mutlak diperlukan\u2014sejak masa seminari untuk benar-benar mengutamakan pematangan manusiawi, dengan menolak segala bentuk kepura-puraan dan kemunafikan. Dengan pandangan yang tertuju pada Yesus, kita harus belajar untuk mengidentifikasi dan mengekspresikan bahkan kesedihan, ketakutan, kegelisahan, dan kemarahan, serta membawa semuanya ke dalam hubungan dengan Allah\u00bb.<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan kata-kata ini, Paus <strong>Leo XIV<\/strong> ia mengingatkan bahwa <a href=\"https:\/\/seminariobidasoa.org\/\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/seminariobidasoa.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">seminar<\/a> Ini bukan sekadar tempat belajar atau persiapan pastoral. Ini juga merupakan ruang di mana calon imam belajar mengenal diri sendiri dengan sejati, tumbuh dewasa secara batiniah, dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Itulah sebabnya ia mendefinisikan seminari sebagai sebuah<strong> sekolah emosi<\/strong>: sebuah tempat di mana hati belajar untuk mencintai dengan mendalam, dengan kebebasan, dan dengan pandangan Kristus.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-buttons is-layout-flex wp-block-buttons-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-button\"><a class=\"wp-block-button__link wp-element-button\" href=\"https:\/\/fundacioncarf.org\/haz-que-el-sueno-del-papa-se-cumpla\/\"><strong>Wujudkan impian Paus. Bantu mendidik para imam untuk dunia.<\/strong><\/a><\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CUERPO-1024x576.png\" alt=\"haz que el sue\u00f1o del papa Le\u00f3n XIV se cumpla dona formaci\u00f3n\" class=\"wp-image-229318\" srcset=\"https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CUERPO-1024x576.png 1024w, https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CUERPO-300x169.png 300w, https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CUERPO-150x84.png 150w, https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CUERPO-768x432.png 768w, https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CUERPO-1536x864.png 1536w, https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CUERPO-18x10.png 18w, https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CUERPO.png 1920w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<h3 id=\"formar-sacerdotes-capaces-de-acompanar-a-las-personas\" class=\"wp-block-heading\"><strong>Mempersiapkan para imam yang mampu mendampingi umat<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pernyataan Paus tersebut sangat relevan saat ini. Saat ini, banyak orang mencari seorang imam yang mampu mendengarkan, yang mendampingi dengan penuh kehangatan, dan yang berbicara tentang Tuhan berdasarkan pengalaman nyata dan manusiawi. Hal itu menuntut pembinaan yang menyeluruh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itulah sebabnya Gereja begitu menekankan pentingnya memanfaatkan waktu di seminari dengan baik: karena di sana tidak hanya belajar atau merenungkan panggilan. Di sana, seseorang belajar menjadi gembala.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seorang imam yang memiliki pembinaan kemanusiaan yang kokoh dapat menjalin hubungan, lebih memahami luka-luka yang dialami komunitasnya, serta mendekatkan Kristus dengan lebih penuh kepekaan dan kedalaman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\"<strong>Saya mengajak Anda semua untuk sering memohon pertolongan Roh Kudus, agar Ia membentuk hati yang patuh dalam diri Anda, yang mampu menangkap kehadiran Allah, juga dengan mendengarkan suara-suara alam dan seni, puisi, sastra, serta musik, dan juga ilmu-ilmu humaniora. <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam komitmen yang ketat terhadap studi teologi, marilah juga mendengarkan dengan pikiran dan hati yang terbuka suara-suara dari dunia budaya, seperti tantangan-tantangan terkini seputar kecerdasan buatan dan tantangan-tantangan dari&nbsp;<em>media sosial<\/em>. Yang terpenting, seperti yang dilakukan Yesus, belajarlah untuk mendengarkan seruan\u2014yang seringkali tak bersuara\u2014dari kaum kecil, kaum miskin, dan kaum tertindas, serta dari begitu banyak orang, terutama kaum muda, yang sedang mencari makna hidup mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika kalian merawat hati kalian, dengan menyisihkan waktu setiap hari untuk keheningan, meditasi, dan doa, kalian akan dapat mempelajari seni membedakan. Ini juga merupakan tugas yang penting: belajar membedakan. Ketika kita masih muda, kita menyimpan banyak keinginan, impian, dan ambisi di dalam diri. Hati kita sering kali dipenuhi berbagai hal sehingga kita pun merasa bingung. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebaliknya, dengan mencontoh Perawan Maria, batin kita harus mampu menjaga dan merenungkan. Mampu&nbsp;<em>synballein<\/em>, sebagaimana ditulis oleh penginjil Lukas (2:19-51): menyatukan potongan-potongan itu. Waspadalah terhadap sikap yang dangkal dan satukanlah potongan-potongan kehidupan dalam doa dan renungan, sambil bertanya pada diri sendiri: apa yang diajarkan kepadaku oleh apa yang sedang kualami ini? \u00bbApa yang dikatakan hal ini tentang perjalanan hidupku? Ke mana Tuhan sedang membimbingku?\u201d<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"\ud83d\udcab Wujudkan impian Paus menjadi kenyataan\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/x5khh7jcZNI?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"la-mision-de-fundacion-carf-ayudar-a-formar-futuros-sacerdotes\"><strong>Misi Yayasan CARF: membantu mendidik para calon imam<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berkat bantuan ribuan anggota, dermawan, dan sahabat, para seminaris dan imam keuskupan dari lebih dari 130 negara dapat menempuh studi dan pembinaan di Roma dan Pamplona.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mereka memang menerima pendidikan akademis, namun juga mendapatkan pendampingan spiritual, pastoral, dan kemanusiaan yang memperkuat panggilan mereka serta mempersiapkan mereka untuk kembali ke keuskupan masing-masing dengan pandangan yang universal dan hati yang terbina dengan baik. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal ini sepenuhnya berkaitan dengan <strong>mimpi yang dialami Paus Leo XIV<\/strong> Ia mengingatkan seluruh Gereja: agar ada para imam yang suci, dekat dengan umat, dan siap melayani dunia saat ini.<\/p>\n\n\n\n<h2 id=\"haz-que-el-sueno-del-papa-se-cumpla\" class=\"wp-block-heading\"><strong>Wujudkan impian Paus menjadi kenyataan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kunjungan Paus ke Spanyol kembali menyoroti pesan ini. Seruannya untuk memperhatikan pembinaan para seminaris bukanlah gagasan yang abstrak. Ini adalah ajakan konkret kepada seluruh Gereja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Di Yayasan CARF <\/strong>Kami ingin membuktikannya dengan tindakan nyata: dengan membantu mereka yang saat ini sedang mempersiapkan diri untuk mengabdikan hidupnya demi melayani sesama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena mendukung pendidikan seorang calon imam berarti membantu membentuk hati yang mampu mendampingi, menopang, dan membawa harapan ke tempat-tempat yang paling membutuhkannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u00abPara seminaris berhak mendapatkan pendidikan terbaik yang mungkin, dan Gereja, di sisi lain, berhak atas<br>imam-imam yang terpelajar dengan baik. Kriteria agar seminari-seminari menjadi rumah pembinaan yang sesungguhnya adalah memastikan pengalaman hidup bermasyarakat yang memadai; memiliki pembina yang sepenuhnya mendedikasikan diri pada studi dan pengajaran, serta berpengalaman dalam pendampingan rohani; dan memiliki lembaga teologi tingkat tinggi yang dilengkapi dengan sarana yang diperlukan untuk menjalankan fungsinya. Untuk itu, selain bersatu padu, sangatlah penting untuk belajar bekerja sama dalam menghadapi tantangan-tantangan ini\u00bb (Pertemuan dengan para uskup Spanyol. Kantor Pusat Konferensi Waligereja, Madrid. Senin, 8 Juni 2026).<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-buttons is-layout-flex wp-block-buttons-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-button\"><a class=\"wp-block-button__link wp-element-button\" href=\"https:\/\/fundacioncarf.org\/haz-que-el-sueno-del-papa-se-cumpla\/\"><strong>Wujudkan impian Paus. Bantu mendidik para imam untuk dunia.<\/strong><\/a><\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1000\" height=\"667\" src=\"https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/papa_leon_xiv_asamblea_presbiteral.webp\" alt=\"Carta de Le\u00f3n XIV con motivo de la Asamblea Presbiteral de la Arquidiocesis de Madrid\" class=\"wp-image-228294\" srcset=\"https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/papa_leon_xiv_asamblea_presbiteral.webp 1000w, https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/papa_leon_xiv_asamblea_presbiteral-300x200.webp 300w, https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/papa_leon_xiv_asamblea_presbiteral-150x100.webp 150w, https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/papa_leon_xiv_asamblea_presbiteral-768x512.webp 768w, https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/papa_leon_xiv_asamblea_presbiteral-18x12.webp 18w\" sizes=\"auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada banyak kaum muda di seluruh dunia yang telah mendengar panggilan yang mendalam untuk mengikuti panggilan imamat. Mereka ingin melayani, mendampingi, memberikan sakramen-sakramen dan menolong umat mereka berjumpa dengan Allah. Tetapi banyak dari mereka tidak memiliki sarana keuangan untuk dilatih dengan baik, secara akademis dan manusiawi, pada tahap kunci dari pertemuan mereka dengan Allah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Paus Leo XIV baru-baru ini mengingat hal ini dengan kesederhanaan dan kedalaman dalam surat apostoliknya&nbsp;<strong>Loyalitas yang menghasilkan masa depan<\/strong>: \u00abKesetiaan yang membuka jalan menuju masa depan adalah panggilan yang juga diemban para imam pada masa kini, dengan kesadaran bahwa ketekunan dalam misi apostolik memberi kita kesempatan untuk merenungkan masa depan pelayanan serta membantu orang lain merasakan sukacita panggilan imamat...\u00a0Identitas para imam terbentuk berdasarkan jati diri mereka&nbsp;<em>untuk<\/em>&nbsp;dan hal ini tak terpisahkan dari misinya... pembaruan yang dinantikan oleh seluruh Gereja sangat bergantung pada pelayanan para imam, yang diilhami oleh Roh Kristus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;Panggilan ke dalam pelayanan tertahbis adalah karunia yang diberikan secara bebas dan cuma-cuma oleh Allah. Panggilan, pada dasarnya, bukanlah paksaan dari Tuhan, melainkan tawaran penuh kasih akan sebuah rencana keselamatan dan kebebasan bagi keberadaan kita sendiri, yang kita terima ketika\u2014dengan rahmat Allah\u2014kita menyadari bahwa di pusat hidup kita terdapat Yesus, Tuhan. Maka, panggilan ke dalam pelayanan tertahbis tumbuh sebagai penyerahan diri kepada Allah dan, karenanya, kepada Umat-Nya yang kudus. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seluruh Gereja berdoa dan bersukacita atas karunia ini dengan hati yang penuh harapan dan rasa syukur, sebagaimana diungkapkan oleh Paus Benediktus XVI saat menutup Tahun Imam: \u00abKami ingin membangkitkan kegembiraan karena Allah begitu dekat dengan kita, serta rasa syukur atas kenyataan bahwa Dia mempercayakan diri-Nya kepada kelemahan kita; bahwa Dia membimbing dan menolong kita hari demi hari. Kami juga ingin, dengan demikian, mengajarkan kembali kepada kaum muda bahwa panggilan ini, persekutuan pelayanan bagi Allah dan bersama Allah, memang ada; bahkan lebih dari itu, bahwa Allah sedang menanti jawaban \u201cya\u201d dari kita.\u00bb.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk alasan ini, Gereja menaruh perhatian khusus dalam pembentukan imam-imam masa depan agar mereka dapat menjadi manusia yang siap secara manusiawi, rohani dan pastoral, yang mampu mendampingi komunitas mereka dan melayani orang-orang di mana mereka paling dibutuhkan. Inilah yang dilakukan oleh Yayasan CARF sejak tahun 1989.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di banyak negara di seluruh dunia, ada orang-orang yang memiliki panggilan untuk menjadi imam di mana&nbsp;<strong>Keyakinan itu kuat, tetapi sumber daya langka.&nbsp;<\/strong>Di situlah bantuan Anda membuat perbedaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejak awal berdirinya, Yayasan CARF telah mendampingi para seminaris dan imam keuskupan dari 130 negara sehingga mereka dapat menerima pembinaan integral yang dibutuhkan Gereja saat ini dan yang akan dibutuhkan esok hari. Di balik setiap orang ada sebuah cerita, sebuah keluarga, sebuah umat dan sebuah keuskupan yang suatu hari nanti akan memiliki seorang imam yang lebih siap untuk melayani mereka, dan untuk membentuk orang lain.<br><br>Dengan bantuan Anda, Anda membuat hal ini menjadi mungkin&nbsp;<strong>Impian Paus Leo XIV: formasi itu akan menjangkau para seminaris dan imam di seluruh dunia.<\/strong>&nbsp;Semoga masa depan Gereja dibangun di atas fondasi yang kokoh, dengan orang-orang yang dipersiapkan dengan baik dan berdedikasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Wujudkan impian Paus menjadi kenyataan!<\/strong> Memungkinkan terbentuknya orang-orang yang akan peduli terhadap iman dan kehidupan jutaan orang di seluruh dunia.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-rank-math-toc-block\" id=\"rank-math-toc\"><p><strong>Daftar isi<\/strong><\/p><nav><ul><li class=\"\"><a href=\"#que-quiere-decir-leon-xiv-con-escuela-de-los-afectos\">Apa yang dimaksud Paus dengan \u201csekolah kasih sayang\u201d?<\/a><ul><li class=\"\"><a href=\"#formar-sacerdotes-capaces-de-acompanar-a-las-personas\">Mempersiapkan para imam yang mampu mendampingi umat<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class=\"\"><a href=\"#haz-que-el-sueno-del-papa-se-cumpla\">Wujudkan impian Paus menjadi kenyataan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Paus Leo XIV telah meninggalkan pesan utama bagi masa depan Gereja: seminari harus menjadi sekolah kasih sayang. \u00abJustru pada masa yang sedang kalian jalani ini, yaitu masa pembinaan dan pencermatan, penting untuk memusatkan perhatian pada inti, pada \u00abmesin penggerak\u00bb dari seluruh perjalanan kalian: hati! Seminari, apa pun bentuknya, harus menjadi sekolah kasih sayang. Hari ini, khususnya dalam konteks sosial dan budaya yang ditandai oleh konflik dan narsisme, kita perlu belajar untuk mengasihi dan melakukannya seperti Yesus.\u00bb.<\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":229129,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"give_campaign_id":0,"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[330,262,206,421],"class_list":["post-230177","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-blog","tag-formacion-sacerdotal","tag-papa-leon-xiv","tag-sacerdotes","tag-seminario"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/230177","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=230177"}],"version-history":[{"count":15,"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/230177\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":230541,"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/230177\/revisions\/230541"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/229129"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=230177"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=230177"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=230177"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}