{"id":183199,"date":"2022-03-28T08:00:39","date_gmt":"2022-03-28T06:00:39","guid":{"rendered":"https:\/\/staging.fundacioncarf.org\/picasso-y-max-jacob\/"},"modified":"2024-05-10T11:18:56","modified_gmt":"2024-05-10T09:18:56","slug":"picasso-y-max-jacob","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/picasso-y-max-jacob\/","title":{"rendered":"Picasso dan Max Jacob"},"content":{"rendered":"<div class=\"et_pb_section et_pb_section_237 et_section_regular\" >\n<div class=\"et_pb_row et_pb_row_740\">\n<div class=\"et_pb_column et_pb_column_1_5 et_pb_column_2168  et_pb_css_mix_blend_mode_passthrough et_pb_column_empty\"><\/div>\n<div class=\"et_pb_column et_pb_column_3_5 et_pb_column_2169  et_pb_css_mix_blend_mode_passthrough\">\n<div class=\"et_pb_module et_pb_text et_pb_text_814 post-excerpt  et_pb_text_align_left et_pb_bg_layout_light\"><\/div>\n<\/p><\/div>\n<div class=\"et_pb_column et_pb_column_1_5 et_pb_column_2170  et_pb_css_mix_blend_mode_passthrough et-last-child et_pb_column_empty\"><\/div>\n<\/p><\/div>\n<div class=\"et_pb_row et_pb_row_741\">\n<div class=\"et_pb_column et_pb_column_1_5 et_pb_column_2171  et_pb_css_mix_blend_mode_passthrough et_pb_column_empty\"><\/div>\n<div class=\"et_pb_column et_pb_column_3_5 et_pb_column_2172  et_pb_css_mix_blend_mode_passthrough\">\n<div class=\"et_pb_module et_pb_text et_pb_text_815  et_pb_text_align_left et_pb_bg_layout_light\">\n<div class=\"et_pb_text_inner\">\n<h2>Sebuah kisah tentang persahabatan<\/h2>\n<p>Pada awal tahun, Mus\u00e9e d'Histoire de l'Immigration di Paris mempersembahkan sebuah pameran bertajuk Picasso, the Foreigner. <strong>Ia bermaksud untuk menunjukkan bahwa pelukis tidak selalu menjadi seniman yang diakui di Prancis. <\/strong><\/p>\n<p>Pada awal abad ke-20, ia berada di bawah pengawasan polisi, karena dianggap mencurigakan karena sering mengunjungi kalangan avant-garde atau karena sikap anarkisnya. Dia bahkan pernah diselidiki atas pencurian La Gioconda dari Museum Louvre pada tahun 1911.<\/p>\n<p><strong>Namun demikian, Picasso berteman baik dengan seniman Prancis, di antaranya Max Jacob, seorang penyair dan pelukis Yahudi yang telah memeluk agama Katolik.<\/strong> Dia berbagi kamar dengannya di Montmartre dan <strong>menasihatinya untuk melepaskan pekerjaannya, seperti sebagai penjual bahan makanan atau guru piano, untuk mengabdikan diri pada penciptaan seni.<\/strong><\/p>\n<p>Persahabatan ini membuat Yakub mengajukan permintaan yang tidak biasa kepada Picasso: agar dia menjadi ayah baptisnya pada saat pembaptisannya. Dia percaya bahwa, sebagai orang Spanyol, temannya pasti sudah memiliki iman yang kuat.<\/p>\n<h2>Pablo Picasso dan Kekristenan<\/h2>\n<p>Pelukis Picasso <strong>membuat pengakuan formal tentang ateisme sepanjang hidupnya<\/strong>Pada tahun 1944, ia bergabung dengan Partai Komunis Prancis.<\/p>\n<p>Penulis biografinya mencatat bahwa <strong>Ia meninggalkan agama Kristen mungkin karena kematian seorang adik perempuannya, Conchita, akibat difteri,<\/strong> yang baru berusia tujuh tahun. Hal ini tidak menghalangi gambar Kristus yang Tersalib untuk muncul dalam lukisan dan gambarnya, termasuk pada periode Kubisme.<\/p>\n<p>Namun, ia menerima permintaan tersebut dan menjadi baptis pada upacara pembaptisan di kapel Notre Dame de Sion di Paris pada tanggal 18 Februari 1915. Pada hari itu ia memberikan kepada anak baptisnya sebuah salinan karya Kempis yang berjudul Imitation of Christ, di mana ia menulis dedikasi ini: <em>\"Untuk saudara saya Cyprien, Max Jacob, untuk mengenang pembaptisannya\".<\/em>.<\/p>\n<p>Siprianus adalah nama yang dipilih oleh orang Kristen yang baru masuk Kristen, tampaknya untuk mengenang seorang uskup Antiokhia yang merupakan seorang penyihir sebelum ia bertobat. <strong>Sebuah contoh bagaimana Pablo Picasso tahu bagaimana menempatkan persahabatan di atas keyakinannya.<\/strong><\/p>\n<p>Bertahun-tahun kemudian, pada tahun 1941, Jacob, dalam bukunya Nasihat untuk Penyair Muda, <strong>Saya akan menyalin rekomendasi dari Picasso: \"Pikirkanlah Tuhan dan berkaryalah\".<\/strong><\/p>\n<\/div><\/div>\n<\/p><\/div>\n<div class=\"et_pb_column et_pb_column_1_5 et_pb_column_2173  et_pb_css_mix_blend_mode_passthrough et-last-child et_pb_column_empty\"><\/div>\n<\/p><\/div>\n<div class=\"et_pb_row et_pb_row_742\">\n<div class=\"et_pb_column et_pb_column_1_5 et_pb_column_2174  et_pb_css_mix_blend_mode_passthrough et_pb_column_empty\"><\/div>\n<div class=\"et_pb_column et_pb_column_3_5 et_pb_column_2175  et_pb_css_mix_blend_mode_passthrough\">\n<div class=\"et_pb_module et_pb_image et_pb_image_107\">\n<p>\t\t\t\t<span class=\"et_pb_image_wrap\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/fundacioncarf.org\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/max-jacob-por-picasso-1.jpg\" alt=\"Expertos CARF - Antonio Rubio Plo - Picasso y Max Jacob. Una historia de amistad\" title=\"max-jacob-untuk-picasso\" class=\"wp-image-150480\" \/><\/span>\n\t\t\t<\/div>\n<div class=\"et_pb_with_border et_pb_module et_pb_text et_pb_text_816 leyenda  et_pb_text_align_left et_pb_bg_layout_light\">\n<div class=\"et_pb_text_inner\">\n<p>Potret Max Jacob (Pablo Picasso)<\/p>\n<\/div><\/div>\n<\/p><\/div>\n<div class=\"et_pb_column et_pb_column_1_5 et_pb_column_2176  et_pb_css_mix_blend_mode_passthrough et-last-child et_pb_column_empty\"><\/div>\n<\/p><\/div>\n<div class=\"et_pb_row et_pb_row_743\">\n<div class=\"et_pb_column et_pb_column_1_5 et_pb_column_2177  et_pb_css_mix_blend_mode_passthrough et_pb_column_empty\"><\/div>\n<div class=\"et_pb_column et_pb_column_3_5 et_pb_column_2178  et_pb_css_mix_blend_mode_passthrough\">\n<div class=\"et_pb_module et_pb_text et_pb_text_817  et_pb_text_align_left et_pb_bg_layout_light\">\n<div class=\"et_pb_text_inner\">\n<h2>Pertobatan Max Jacob<\/h2>\n<p>Pada hari pembaptisan, Jacob merindukan kehadiran Guillaume Apollinaire, bapak surealisme, yang saat itu ditempatkan di sebuah garnisun militer di N\u00eemes. <strong>Sang penyair ingin teman-temannya berbagi sukacita, meskipun mereka bukan orang percaya. <\/strong><\/p>\n<p>Harus dikatakan bahwa perpindahan agama Max Jacob menimbulkan kegemparan di kalangan intelektual avant-garde, meskipun hal ini tidak menyiratkan sikap permusuhan terhadapnya. Semuanya, <strong>Jacob merasa sangat disalahpahami dan kesal karena beberapa orang mencapnya sebagai Tartuffe baru, seorang penyembah palsu yang hanya menginginkan perhatian.<\/strong><\/p>\n<p>Hal ini membawanya untuk menerbitkan pada tahun 1919\u00a0<em>Pembelaan Tartuffe<\/em>. Kegembiraan, penyesalan, penglihatan, doa, puisi, dan meditasi seorang Yahudi yang bertobat, sebuah buku yang didedikasikan untuk pelukis Juan Gris.<\/p>\n<p>Berbeda dengan mereka yang meragukan ketulusannya atau menganggap bahwa ia telah terganggu oleh efek eter atau henbane, Yakub menceritakan dua penglihatannya tentang Kristus. Pada gambar pertama, tanggal 23 September 1909, ia bercerita tentang melihat seorang pria, dengan tunik kuning dan rambut panjang, berada di lanskap salah satu gambar yang ia lukis. Punggungnya berpaling, tetapi dia menoleh sekejap dan melihat mulut dan alisnya. Yakin bahwa itu adalah Yesus, <strong>Jacob memiliki gerakan internal bahwa ia harus pindah ke agama Katolik.<\/strong>. Dia berbicara dengan beberapa pendeta, tetapi mereka mengatakan kepadanya bahwa dia tidak boleh terlalu terburu-buru.<\/p>\n<p>Lima tahun berlalu dan sang penyair pergi ke bioskop di Montparnasse pada tanggal 18 Desember 1914 untuk menonton film petualangan,\u00a0<em>Pita jubah hitam<\/em>menurut sebuah novel karya master opera sabun, Paul F\u00e9val. Ia melepaskan mantelnya dari kursi agar penonton lain dapat duduk, dan pada saat yang sama, ia mengira bahwa ia melihat wajah di antara kerumunan penonton di layar, wajah yang sama dengan teman duduknya. Dia segera meninggalkan bioskop dan pergi ke gereja terdekat untuk memberi tahu seorang pendeta. Pendeta tidak hanya tidak mempercayainya, tetapi juga mencelanya karena sering menggunakan kacamata seperti itu. Namun demikian, dua bulan kemudian ia dibaptis.<\/p>\n<h3>Penglihatan Kristus oleh Max Jacob<\/h3>\n<p>Di sisi lain, kitab Yakub <strong>berisi beberapa refleksi menarik tentang konversi<\/strong>. Penulisnya bercita-cita untuk hidup <em>\"dengan orang-orang yang akan mengajarinya keindahan moral dan kesopanan hidup\".<\/em>. Dia ingin membiarkan dirinya diinstruksikan, menceritakan tentang hidupnya dan meratapi kesalahannya. Dia ingin melampaui lingkaran pelanggaran, pengakuan iman para intelektual tertentu.<\/p>\n<p>Namun demikian, <strong>ia tidak dapat menemukan tempatnya dan tidak berani berbicara kepada Allah<\/strong>. Dia dicap sebagai orang gila, meskipun dia mengklaim bahwa dia adalah <em>\"Tuhan ada di mana-mana dan di tempat terburuk sekalipun\".<\/em>.<\/p>\n<p>Setelah dibaptis, ia menyadari bahwa ia telah berbuat dosa lagi. Dia tidak dapat mengusir kesombongan, kerakusan atau nafsu, <strong>Tetapi pada saat yang sama imannya membuatnya mampu menulis dalam buku yang sama sebuah puisi yang disarankan oleh adorasi Ekaristi yang dia ikuti setiap pagi di basilika Sacr\u00e9 Coeur.<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<\/div><\/div>\n<\/p><\/div>\n<div class=\"et_pb_column et_pb_column_1_5 et_pb_column_2179  et_pb_css_mix_blend_mode_passthrough et-last-child et_pb_column_empty\"><\/div>\n<\/p><\/div>\n<div class=\"et_pb_row et_pb_row_744\">\n<div class=\"et_pb_column et_pb_column_1_5 et_pb_column_2180  et_pb_css_mix_blend_mode_passthrough et_pb_column_empty\"><\/div>\n<div class=\"et_pb_column et_pb_column_3_5 et_pb_column_2181  et_pb_css_mix_blend_mode_passthrough\">\n<div class=\"et_pb_with_border et_pb_module et_pb_text et_pb_text_818 elemento-firma  et_pb_text_align_left et_pb_bg_layout_light\">\n<div class=\"et_pb_text_inner\">\n<p>Dengan kolaborasi dari:<\/p>\n<p><strong>Antonio R. Rubio Plo<\/strong><br \/>Lulusan Sejarah dan Hukum<br \/>Penulis dan analis internasional<br \/>@blogculturayfe \/ @arubioplo<\/p>\n<\/div><\/div>\n<\/p><\/div>\n<div class=\"et_pb_column et_pb_column_1_5 et_pb_column_2182  et_pb_css_mix_blend_mode_passthrough et-last-child et_pb_column_empty\"><\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seorang Yahudi yang berpindah agama menjadi Katolik, Jacob meminta Picasso untuk menjadi ayah baptisnya pada saat pembaptisannya. Yang terakhir, meskipun ateis, mengutamakan temannya<\/p>","protected":false},"author":5,"featured_media":183723,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"give_campaign_id":0,"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-183199","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-blog"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/183199","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=183199"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/183199\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":183722,"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/183199\/revisions\/183722"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/183723"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=183199"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=183199"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fundacioncarf.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=183199"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}